Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PENGARUH PEROMPESAN TERHADAP JUMLAH UMBI PADA BEBERAPA VARIETAS KETELA POHON (Manihot esculenta) Gore, Yohanes Don Bosko; Siswanto, Bambang; Arifin, Zainol
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of the study in this study was to determine the cassava varieties which have resistance to leaf piracy in the growth phase and produce a high number of tubers. This type of research is descriptive quantitative by using Splot Split Design, with the main treatment being Malang 1 Varieties, Malang 4 Varieties, Shrimp Pond Varieties and UJ 5 Varieties, while the treated children were without piracy, 20% boiling and 40% boiling. This experiment was carried out using the Split plot design with three replications. The main plot is 4 varieties, namely Malang variety 1 (V1), Malang variety 4 (V2), UJ 5 (V3) variety and shrimp farm variety (V4). The plot of children is the repetition of 0% (P0), piracy of 20% (P1) and piracy of 40% (P2). The treatment of fertilizers used in this experiment is to use recommendations on cassava plants in general. Varieties that have the highest number of tubers are varieties of Malang 4, Compensation of 20% is one of the perompesan which gives the highest number of tubers. Tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah untuk Mengetahui varietas ubi kayu yang memiliki ketahanan terhadap perompesan daun pada fase pertumbuhan dan menghasilkan jumlah umbi yang tinggi. Jenis Penelitian ini deskriptif Kuantitatif dengan menggunakan Rancangan Split Splot, dengan perlakuan utama adalah Varietas Malang 1, Varietas Malang 4, Varietas Tambak Udang dan Varietas UJ 5, Sedangkan anak perlakuan adalah tanpa perompesan, perompesan 20 % dan perompesan 40 %. Percobaan ini dilaksankan dengan menggunakan Rancangan Split plot dengan tiga ulangan. Petak Utama adalah 4 varietas yaitu varietas Malang 1 (V1), varietas Malang 4 (V2), Varietas UJ 5 (V3) dan Varietas Tambak Udang (V4). Anak Petak yaitu perompesan 0% (P0), perompesan 20 % (P1) dan perompesan 40 % (P2). Perlakuan pupuk yang digunakan dalam percobaan ini adalah dengan menggunakan rekomendasi pada tanaman ubi kayu pada umunya. Varietas yang memilki jumlah umbi tertinggi adalah varietas Malang 4, Perompesan 20 % merupakan salah satu perompesan yang memberikan jumlah umbi tertinggi.
APLIKASI POC SUPERMES DIKOMBINASI AB MIX PADA PERTUMBUHAN SAWI PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) SECARA HIDROPONIK Dema, Marlince May; Astutik, Astutik; Arifin, Zainol
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pakcoy (Brassica rapa) is one of the plants that has high economic value. One way to improve the productivity of pakcoy mustard is the hydroponic system. This study aims to determine the concentration of supermes liquid organic fertilizer and the right fertilizing frequency to produce the best growth and yield of pakcoy mustard plants in a hydroponic manner. The study was conducted at Green House Jln. Tlagawarna Blok D, starting from December 2018-February 2019. The study used a Factorial Complete Randomized Design (RAL) with two treatment factor. Factor 1. Supermes POC concentration, namely: S0=control, S1=2 ml/liter of water, S2=4 ml/liter of water. Factor 2. Fertilization frequency is: F1=per 1 week, F2=per 2 weeks. The results showed that there was an interaction between the concentration of POC Supermes and the frequency of fertilization on plant height, number of leaves, leaf widths of 3,4 and 5 weeks, leaf lengths of 4 and 5 weeks, leaf area and leaf chlorophyll at 5 weeks. The best pakcoy plant growth was obtained at the nutrient concentration of AB Mix without the addition of supermes with fertilization frequency per 1 week and per 2 weeks and AB Mix + Supermes 2 ml fertilization frequency per 2 weeks with leaf area (8,97-9,90cm). The best pakcoy plant are obtained with AB Mix nutrition without supermes with fertilizing frequency per 2 weeks. Pakcoy (Brassica rapa L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sawi pakcoy yaitu dengan sistem hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik cair supermes dan frekuensi pemupukan yang tepat untuk menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pakcoy yang terbaik secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan di Green House Jln. Tlagawarna Blok D, waktu mulai bulan Desember 2018?Februari 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor 1. Konsentrasi POC Supermes yaitu: S0=kontrol, S1=2 ml/ liter air, S2=4 ml/ liter air. Faktor 2. Frekuensi pemupukan yaitu: F1=per 1 minggu, F2= per 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara konsentrasi POC Supermes dan frekuensi pemupukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun umur 3,4 dan 5 minggu, panjang daun umur 4 dan 5 minggu, luas daun dan klorofil daun pada umur 5 minggu. Pertumbuhan tanaman pakcoy terbaik diperoleh pada konsentrasi nutrisi AB Mix tanpa penambahan supermes dengan frekuensi pemupukan per 1minggu dan per 2 minggu dan AB Mix + Supermes 2 ml/l frekuensi pemupukan per 2 minggu dengan luas daun (8,97-9,90 cm²). Hasil tanaman pakcoy terbaik diperoleh nutrisi AB Mix tanpa supermes dengan frekuensi pemupukan per 2 minggu.
PENGEMBANGAN TANAMAN TALAS BENTUL KOMODITAS UNGGULAN PADA LAHAN RAKYAT DI KECAMATAN PEGANTENAN KABUPATEN PAMEKASAN Zainol Arifin
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.403 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.982

Abstract

Kebutuhan karbohidrat dari tahun ke tahun terus meningkat, penyediaan karbihidrat dan karbohidarat serelia saja tidak mencukupi, sehingga peranan tanaman penghasil karbohidratat yang memiliki peranan cukup strategis tidak hanya sebagai sumber bahan pangan.Oleh karena itu tanaman bentul menjadi sangat penting artinya didalam kaitan terhadap penyediaan bahan panga dari umbi-umbian khususnya bentul semakin penting. Tanaman bentul merupakan tanaman karbohidrat non beras, diversifikasi/ penganekaaragaman konsumsi pangan local/budaya local, substitusi gandum/terigu, pengembangan industry pengolahan hsil dan industry I serta komoditi strtegis sebagai pemasok devisa melaui ekspor.. Hasil analisa tanah yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur Tahun 2011 berdasarkan data usahatani ubijalar tahun 2010,Vareitas unggul didefinisikan sebagai varietas yang dapat berproduksi di atas rata-rata pada lingkungan spesifik.Benih bermutu sering dikaitkan dengan istilah benih bersertifikat atau benih bermutu. Sertifikat tersebut sebagai jaminan bahwa benih diperoleh dari proses yang standar, memiliki kemampuan tumbuh dengan tingkat keseragaman tinggi, dan terbebas dari penyakit tular benih (seed born diseases).Pemilihan varietas atau klon yang sesuai dengan karakteristik agroekologi lahan akan mengurangi biaya input seperti penggunaan kultivar ganjah, toleran penyakit tertentu. Perakitan vareitas atau klon yang memiliki kemampuan berproduksi tinggi pada lingkungan spesifik seperti tahan terhadap intensitas cahaya yang rendah, tahan kekeringan, tahan terhadap genangan air.Hasil survey tentang bibit yang dipakai dalam budidaya tanaman talas di Kecamatan Pegantenan menunjukkan mereka mengatakan 100% bibit yang dipakai menggunakan bibit turun temurun dari nenek moyang mereka. Bibit mereka menghasilkan produksi sedang yaitu 2 sampai 7 Kg per bibit. Akan tetapi bibit yang mereka tanam mempunyai kelemahan antara lain tidak tahan terhadap penyakit, tidak tahan terhadap kekeringan dan tidak tahan terhadap genangan air.Periode kritis terhadap air didefinisikan sebagai periode tanaman membutuhan air dalam jumlah yang cukup. Periode ini berbeda antara tanaman, akan tetapi umumnya hal tersebut terjadi pada masa awal pertumbuhan, fase perkembangan bunga dan fase pengisian umbi. Gangguan pada fase krisis air tersebut akan berpengaruh nyata pada produktivitas tanaman. Mempertimbangkan hal tersebut, terutama pada daerah yang ketersediaan air tidak mencukupi perlu dilakukan upaya konservasi air seperti pemberian mulsa untuk mengurangi evaporasi tanah disertai dengan upaya pemanenan air seperti embung dan daerah resapan.Berdasarkan hasil survey di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pegantenan, Kecamatan Palengaan dan Kecamatan Proppo menunjukkan 100% mereka terkendala dalam menyediaan air untuk budidaya tanaman talas, di daerah penelitian termasuk lahan kering yang hanya mengandalkan tadah hujan. Masyarakat di daerah penelitian untuk manajemen pemberian air bagi tanaman talas mereka melakukan pengaturan tanam agar tanaman talas mereka dapat tumbuh dan menghasilkan yang maksimal, penanaman tanaman talas dilakukan pada akhir musim kemarau, disamping itu masyarakat melakukan efesiensi atau mengurangi proses evaporasi tanah dengan cara pemberian seresah daun di sekitar tanaman talas pada waktu fase awal pertumbuhan. Pada fase generative masyarakat tidak perlu lagi dalam penyediaan air bagi tanaman talas karena pada fase generative bertepatan pada musim hujan. Ketersediaan air bagi tanaman talas akan mempengaruhi kelangsungan budidaya talas secara berkelanjutan.Pemberian pupuk baik unsur hara makro maupun mikro didasarkan pada pertimbangan bahwa high yielding variety umumnya sangatresponsive terhadap pemupukan. Selain itu, pemanenan yang berulang-ulang akan menguras unsur-unsur hara yang berada dalam tanah terbawa oleh hasil panen.Manajemen pemupukan yang dilakukan masyarakat di daerah penelitian menunjukkan 99% menggunakan pupuk N (Urea) dan Pupuk kandang, dan sebesar 1% menggunakan pupuk N (Urea), TSP dan Pupuk kandang. Masyarakat daerah penelitian pupuk kandang di aplikasikan pada awal penanaman sedangkan pupuk N (Urea) dan TSP diaplikasikan pada waktu tanaman talas berumur tiga bulan.Pemberian pupuk pada tanaman talas masyarakat memberikan dua kali, berdasarkan survey masyarakat yang memberikan dua kali sebesar 98% dan 2%nya memberikan sebanyak tiga kali.Sedangkan jumlah pupuk yang diberikan tidak konsisten, jumlah pupuk yang diberikan berdasarkan sisa pupuk yang dipakai pada tanaman tembakau atau tanaman padi.Untuk pupuk kandang jumlah yang diberikan berdasarkan ketersediaan pupuk yang dipunya oleh masyarakat Organisme pengganggu tanaman dapat berupa hama, penyakit, dan gulma. Kehadiran hama, penyakit dan gulma dapat menurunkan produktifitas tanaman, oleh karenanya perlu langkah pengendalian.Seiring dengan adanya isu kelestarian linkungan, pengendalian OPT (Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman) perlu diusahakan dilakukan di bawah ambang ekonomi dan bukan bersifat pemusnahan karena hama, penyakit dan gulma merupakan unsur penyeimbang ekologis.Nilai R/C Ratio usahatani talas /usahatani/musim sebesar 2,28. Ini berarti setiap Rp 1,00 modal yang diinvestasikan untuk usatani talas akan memberikan penerimaan sebesar 2,28 sehingga dapat dijelaskan bahwa usahatani talas layak diusahakan. Menurut Dari hasil penelitian diperoleh R/C 1, Soekartawi (1995) apabila R/C ratio 1 maka usahatani tersebut layak diusahakan atau dengan kata lain usahatani talas menguntungkan bagi petani di Kec.Pegantenan Oleh karena itu keputusan yang diambil oleh petani tepat dan usahatani talas tetap diusahakan..Kata kunci: OPT talas bentul, kesuburan tanah dan pendapatan
Penggunaan biochar anorganik nitrogen dalam menghasilkan perkembangan dan produksi tanaman sawi pakchoy pada tanah lapisan bawah (sub soil) Zainol Arifin; Ida Sugeng Suyani
Agrovigor Vol 15, No 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v15i1.9823

Abstract

Pemanfaatan biochar dalam budidaya tanaman mulai banyak digunakan. Tujuan Penelitian untuk mengetahui berat bobot pada pemanfaatan biochar, serta meningkatkan hasil pada penggunaan bichar. Rancangan menggunakan  Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu Faktor pertama Biochar: (jengkok tembakau) B0  Kontrol (Tanpa Biochar)  B1 Biochar (200 g/polybag) Faktor kedua  Dosis Nitrogen (urea) N0Kontrol (Tanpa Urea), N1 50 kg/ha (0,4 g/polybag) N2 100 kg/ha (0,8 g/polybag). Hasil penelitian diperoleh terdapat interaksi antara kedua faktor perlakuan terhadap jumlah daun umur 21 hari dan berat basah tanaman (g) pada umur 28 hari 200 g/polybag – 0,4 g/ polybag pertumbuhan tanaman terbaik terdapat pada dosis 200 g/polybag, dengan tinggi tanaman (24,89 cm), jumlah daun (20,69 helai), luas daun (749,29 cm), berat basah (262,56 g), berat kering (19,09 g), sedangkan pertumbuhan terbaik pada dosis nitrogen 100kg/ha – 0,8 g/polybag, di tinjau dari tinggi tanaman(25,88 cm), jumlah daun (21,38 helai), luas daun (805,44 cm), dan hasil tanaman sawi terbaik terdapat pada perlakuan biochar 200 g/polybag dengan pupuk nitrogen 0,4-0,8 g/polybag yakni 260,33-260,67 g/pertanaman.
PERBEDAAN PRODUKSI KEDELAI (Glycine Max (L) Meriil ) VARIETAS DERING DAN VARIETAS GEMA PADA KEKERINGAN Zainol Arifin
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 12 No 1 (2015): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.598 KB) | DOI: 10.24929/fp.v12i1.197

Abstract

Kegiatan uji adaptasi/persiapan pelepasan varietas merupakan salah satu rangkaian dari suatu proses menghasilkan varietas unggul baru dalam rangka peningkatan produksi kedelai. Penelitian bertujuan untuk menguji perbedaan pertumbuhan dan produksi 2 varietas kedelai dan untuk mengetahui dan mendapatkan varietas kedelai yang berdaya hasil tinggi, dilaksanakan di Desa Pegantenan Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan mulai bulan Juni sampai September 2015.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 vareitas kedelai sebagai kelompok 3 perlakuan dan diulang 4 kali. 2 varietas kedelai adalah Gema dan Dering. perlakuan penyiraman dengan kecekaman kekeringan dimulai setelah tanaman berbunga umur 5 minggu, menunjukkan perbedaan nyata pada variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah polong pertanaman dan berat 100 butir, sedangkan pada variabel jumlah polong per tanaman menunjukkan perbedaan tidak nyata. Dering 1 (1) dan dering 3 (4) merupakan galur berpenampilan baik dengan sifat-sifat antara lain tinggi tanaman 57,5cm, jumlah polong per tanaman 501 buah, dan berat 100 bijinya 13,01 gr.
KONTRIBUSI USAHATANI PEMBIBITAN CABAI RAWIT TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA KELOMPOK TANI PERDI DI DESA DILEM KECAMATAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG Zainol Arifin
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 18 No 1 (2021): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v18i1.1160

Abstract

Prospek usahatani pembibitan sayuran cabai, di desa Dilem kecamatan Kepanjen cukup besar, namun belum diketahui tingkat kelayakannya. Petani umumnya sudah mengadakan perhitungan ekonomi, namun tidak dilakukan secara tertulis dan masih banyak petani yang belum menghitung berapa tingkat pendapatan usahatani yang diusahakannya. Sebagai dasar untuk mengembangkan suatu usahatani, diperlukan suatu sistem informasi untuk mengetahui total biaya, produktivitas bibit, pendapatan dan kelayakan dari usahatani khususnya pembibitan cabai rawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor pendorong usahatani pembibitan cabai rawit terhadap pendapatan rumah tangga pada kelompok tani Perdi desa Dilem kecamatan Kepanjen kabupaten Malang dan untuk mengetahui kontribusi usahatani pembibitan cabai rawit terhadap pendapatan rumah tangga pada kelompok tani Perdi desa Dilem kecamatan Kepanjen kabupaten Malang. Metode penentuan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah metode teknik sengaja (purposive sampling). Peneliti mengambil secara sengaja sampel semua anggota kelompok tani berjumlah 36 orang. Faktor yang mendorong anggota kelompok tani pembibitan cabai rawit di desa Dilem kecamatan Kepanjen kabupaten Malang untuk menjalankan usahatani pembibitan cabai rawit, antara lain : banyak tenaga kerja yang tersedia di desa Dilem, pemanfaatan sarana produksi sebagai alat bantu produksi, dukungan dari perangkat atau Pemerintah desa, karakteristik atau kearifan lokal yang dimiliki oleh penduduk desa Dilem, tingginya permintaan bibit tanaman cabai, akses lokasi yang mudah dijangkau dan ketersediaan atau kepemilikan lahan. Besarnya kontribusi dari usahatani pembibitan cabai rawit terhadap total pendapatan rumah tangga di desa Dilem adalah sebesar 58,93%. Hal ini menunjukan bahwa usahatani pembibitan cabai rawit merupakan sumber pendapatan yang memberikan kontribusi yang cukup besar, jadi usahatani ini sangat cocok dikembangkan di desa Dilem kecamatan Kepanjen kabupaten Malang.
Faktor Yang Berpengaruh pada Produksi dan Pendapatan Stroberi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Zainol Arifin; Farah Mutiara
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 18 No 2 (2021): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v18i2.1644

Abstract

Masyarakat Desa Pandanrejo bermata pencaharianpetanidanterletakdisekitar 700-800 meter dariataspermukaan air danteksturtanahnyagembur, dan merupakansalahsatudesawisata yang diunggulkan karena disana mempunya itempat wisata petik strobery. Wisata petik strobery mempunyai peranan dalam membangun perekonomian desa. Hal ini dibuktikan dengan program tanam stroberi dipekarangan rumah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahu ifaktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani Stroberi,. Untuk Mengetahui factor pendapatan Usahatani Stroberi. Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis atas Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Sari Buah Stroberi, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dengan menggunakan analisis Cobb-Douglas maka diketahui bahwa Luas Lahan(X1), Umur(X2), Modal(X3), Tenaga Kerja(X4), Pupuk (X6),Pendidikan (X7) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Produksi (Y1), yang artinya tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap faktor produksi. Sedangkan Faktor yang paling berpengaruh secara signifikan yaitu Bibit (X5), yang artinya bahwa Bibit memiliki pengaruh yang nyata terhadap Produksi pada Usahatani Sari Buah Stroberi, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Analisis R/C menguntungkan secara ekonomi karena nilai R/C > dari 1. Dengan demikian diketahui bahwa secara ekonomis Usahatani Sari Buah Stroberi, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu yang dilakukan secara ekonomis menguntungkan, hal ini di buktikan dengan nilai rasio R/C sebesar 2,03. Kata Kunci : Produksi, Pendapatan, Usahatani
Pengaruh Sistem Pengendalian Gulma Terhadap Pertumbuhan Awal Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Zainol Arifin
Folium : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 2, No 2 (2018): Folium : Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.166 KB) | DOI: 10.33474/folium.v2i2.1013

Abstract

Penelitian ini merupakan percobaan lapang yang bertujuan untuk menjelaskan  pengaruh gulma  terhadap pertumbuhan awal tanaman tebu. Penelitian ini  dilaksanakan di Desa Barurambat Timur Kecamatan Pamekasan  Kabupaten Pamekasan yang berada pada ketinggian 4 m diatas permukaan laut dengan jenis tanah Inceptisol dan suhu rata-rata 28-30 oC serta pH 6.5-7.0. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan pertumbuhan tanaman tebu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah waktu pengendalian pada umur tanaman tertentu (W) yang terdiri 5 taraf yaitu: W1 = 5 dan 20 HST, W2 = 5 dan 35 HST, W3 = 20 dan 35 HST, W4 = 20 dan 50 HST, dan W5 = 5, 20 dan 35 HST. Faktor kedua adalah cara pengendalian gulma (C) yang terdiri dari 2 taraf yaitu: C1 = Cara manual dan C2 = Menggunakan herbisida. Hasil percobaan  menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan waktu dan cara pengendalian gulma tidak memberikan  interaksi yang nyata terhadap semua variable pengamatan (jumlah anakan, panjang tanaman induk, panjang anakan, luas daun, berat basah batang induk dan berat basah anakan).  Perlakuan waktu pengendalian gulma berpengaruh nyata terhadap luas daun pada pengamatan umur 10 minggu setelah tanam (MST). Waktu pengendalian gulma 5 dan 20 HST (W1) menghasilkan daun terluas (387,14 cm²) walaupun tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan W2, W3 dan W5.  Perlakuan cara pengendalian gulma berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman induk, diameter batang induk, luas daun pada pengamatan 6,8 dan 10 MST serta berat basah anakan. Cara pengendalian manual (C1) menghasilkan pertumbuhan tanaman tebu yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan cara kimiawi (C2) menggunakan herbisida.Kata kunci: Pertumbuhan, Tebu, gulma, cara pengendalian
IbM Home Industri Jamu Tradisional Madura untuk Meningkatkan Daya Saing di Kabupaten Pamekasan Zainol Arifin; Fitrah Yuliawati; FNU Syafrawi
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2016): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-dinamika.v1i2.283

Abstract

kal masuknya dunia kerja dan dunia industri, seiring masuknya pasar ekonomi asean Kegiatan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) kami lakukan pada dua home industri di Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Metode pelaksanaan terdiri dari tahap persiapan, tahap awal tahap pelaksanaan. Evaluasi dan hasil pelaksanaan IbM menunjukkan bahwa: 1) Secara umum anggota home industry Jamu tradisional “Pj Melati” dan anggota home industry jamu tradisional “Pj. Tongkat Sapu Jagad” mulai mengelola bagaimana cara meracik dan mencampur bahan jamu tradisional dapat menarik baik dari rasa maupun dari aroma sehingga kemasan tetap diminati masyarakat di Indonesia; 2) Sebagian besar Telah memahami dan menerapkan tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai job description; 3) menerapkan skedul terjadwal pengolahan secara sistematis dan terencana, baik pembuatan jamu mulai asam urat, sehat lelaki, maupun sehat perempuan yang terdiri dari bahan alami seperti Cikeling, Kapulaga, Manjakani, maupun Palasari. Untuk memenuhi permintaan pasar dan konsumen, khususnya para tengkulak dalam bentuk besar dilayani secara khusus. Teknologi pengemasan dengan menggunakan manual atau tangan-tangan terampil disesuaikan dengan keahlian dan kemahiran; 4) Telah memahami dan mulai menerapkan pencatatan transaksi keuangan setiap penjualan secara teratur dan secara periodic, yaitu pencatatan keuangan sederhana dengan periodesasi yaitu pencatatan keuangan sederhana dengan periode mingguan, bulanan untuk satu home industry jamu tradisional; 5) Anggota kelompok home industry “Pj Melati” dan” PJ Tongkat Sapu Jagad” sebagian besar menerapkan strategi pemasaran melalui iklan media cetak sampai dengan media elektronik atau di took-toko maupun swalayan dsekitar wilayah kota pamekasan; 6) Mulai menerpkan pengemasan dengan mencantumkan komposisi bahan-bahan (Ingridients) dan tanggal kadaluwarsa (expired date); 7) Sudah memiliki Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP) dari Depkes bahkan sampai pada pengurusan BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) sebagai bentuk legalisasi dan produk dan expailed tersebut.
Pemberdayaan Petani Jeruk Melalui Badan Usaha Milik Desa Untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Zainol Arifin; Cahyo Sasmito; Cakti Indra Gunawana
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 1 (2021): June
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-dinamika.v6i1.2522

Abstract

Sebagai penopang pendapatan asli desa Sumbersekar, untuk meningkatkan asli pendapatan desa Sumbersekar Dau Malang, maka tuntutan ke depan adalah membayar pajak desa sesuai dengan ketentuan. Untuk itu sebagai masyarakat petani umumnya Desa Sumbersekar memiliki potensi antara lain, padi, jagung, singkong, dan Jeruk merupakan hal yang perlu ditingkatkan produksinya. Pelatihan Manajemen Badan Usaha Milik  Desa (BUMDES) : Manajemen SDM dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pemahaman dan pendefinisian terhadap kerja  sehingga masing-masing divisi memahami tugas dan fungsinya serta dapat meningkatkan kinerja dari divisi. Selain itu, dalam hal perencanaan program kerja perlu diberikan pembinaan tentang pembuatan program kerja yang terjadwal  sehingga program kerja menjadi lebih terarah dan dapat meningkatkan kinerja daripada Badan  usaha Milik Desa. Manajemen keuangan, dalam hal pembukuan atau pencatatan transaksi keuangan sehingga mereka dapat mengetahui berapa besarnya pemasukan dan pengeluaran setiap musimnya, dengan pembuatan jurnal sederhana untuk mencatat setiap transaksi keuangan, maka dapat membentuk arus kas serta melakukan analisis terhadap arus kas  untuk setiap musimnya, sehingga dapat menjadi pedoman atau acuan bagi usaha masyarakat dan petani jeruk  dalam hal perencanaan keuangan sehingga hutang atau pinjaman yang tidak terduga dapat diminimalisir. Pelatihan Model Pemberdayaan Petani Jeruk, Cara Pemupukan, dan Panen, serta penyimpanan yang baik dan benar. Pelatihan teknologi budidaya tanaman Jeruk sesuai dengan standar good agricultural practice (GAP). Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan baku yang dipakai sebagai sari jeruk.  Pelatihan pemanfaatan teknologi tepat guna. Ke depan BUMDES pada tanaman Jeruk akan mampu memasarkan dan menjual produk mereka tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat, sehingga akan mempercepat perkembangan usaha dan meningkatkan kesejahteraan usaha masyarakat  petani jeruk