Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

URGENSITAS PENDIDIKAN PRENATAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM Yusliani, Hamdi
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 8, No 1, April (2021)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2326.789 KB) | DOI: 10.37598/pjpp.v8i1, April.864

Abstract

Setiap manusia yang telah membangun sebuah keluarga pasti mendambakan suatu karunia paling besar dari Allah yaitu anak. Keberadaannya sangat dinantikan karena akan menjadi penerus sejarah manusia serta menjadi salah satu penguat ikatan dalam sebuah rumah tangga.  Harapan tersebut tidak ada pengecualian, akan ada pada setiap laki-laki dan perempuan, miskin atau kaya, dimanapun keberadaannya. Tentunya anak yang diharapkan adalah anak yang sehat secara rohani dan jasmani, kuat, cerdas, pandai dan pastinya punya keimanan yang tinggi di kala dewasa nanti. Untuk mewujudkan hal tersebut maka keluarga, terutama orang tua, menjadi pondasi pertama dalam memberikan pendidikan dasar bagi anak. Islam sebagai agama rahmatallil’alamin memberi petunjuk untuk dijalankan oleh umatnya dalam hal pendidikan anak. Pendidikan yang utama adalah pendidikan yang diberikan pada saat seorang ibu mengandung (prenatal). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya pendidikan prenatal dalam perspektif Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam hal ini ialah melakukan identifikasi wacana, dari buku, artikel, jurnal, web (internet), atau informasi lainnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah content analysis (analisis isi). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Islam sangat memberi perhatian besar terhadap pendidikan prenatal, menanamkan nilai-nilai yang baik sehingga menjadi modal dasar dalam perkembangannya pada kehidupan selanjutnya. Islam memerintahkan bagi setiap orang tua untuk memperhatikan setiap gerak tingkah lakunya selama mengandung, baik dalam metode pendidikan maupun materi yang diberikan kepada anak sebagai lingkungan pertama yang diterima oleh anak
REVITALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI YAYASAN REHABILITASI RUMOH GEUTANYOE BANDA ACEH Hamdi Yusliani
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 17, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan latar belakang korban penyalahgunaan narkoba, upaya revitalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam disana dan dampak positif serta kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya revitalisasi pendidikan agama Islam di Yayasan Rehabilitasi Rumoh Geutanyoe Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dan kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan: observasi,  interview, angket, dan  telaah dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penyalahgunaan narkoba yang terjadi dilatarbelakangi oleh pengaruh lingkungan yang menggunakan narkoba, selain dari dasar pendidikan agama mereka belum cukup untuk dapat membendung pengaruh lingkungan tersebut, ditambah dengan kurangnya perhatian dari para orang tua terhadap bahaya narkoba dan kebutuhan anak terhadap penanaman nilai-nilai pendidikan Islam. Upaya revitalisasi pendidikan agama Islam yang dilakukan dalam program rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba di Rumoh Geutanyoe adalah penerapan salat berjamaah, konseling merubah pola pikir ke arah yang positif, baik dari segi akhlak maupun pola pikir mereka terhadap bahaya narkoba, pemberian materi pendidikan agama Islam  yang dilakukan dalam tiap minggunya serta pengajian bersama yang dilakukan secara rutin juga pada malam jumat setiap minggunya. Hal positif yang diperoleh para residen dengan menjalani program rehabilitasi di Rumoh Geutanyoe,  yaitu mulai memahami akan bahaya narkoba, ibadahnya menjadi lebih bermakna, baik melalui pengajian, salat maupun materi-materi pendidikan agama Islam, juga memperbaiki akhlak dan pola pikir mereka terhadap pentingnya pendidikan agama Islam dalam kehidupan mereka. Kata kunci: revitalisasi, pendidikan Islam, penyalahgunaan narkoba
KONSEP FITRAH DAN PERBANDINGAN DENGAN TEORI BARAT DALAM PROSES PENDIDIKAN ISLAM Hamdi Yusliani
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemahaman terhadap teori perkembangan manusia yang dikembangkan dewasa ini memberi pengertian bahwa teori barat memegang peran penting dalam proses pendidikan. Di sisi lain, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang benar tentang tujuan dan hakikat pendidikan sejak ratusan tahun lalu, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong pada nilai-nilai kebajikan yang dapat memfungsikan diri sebagai hamba tanpa kecuali maupun prioritas terhadap suatu potensi tertentu. Dengan demikian, pendidikan menjadi suatu proses dalam membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berpikir dan berkarya, untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Kata kunci: teori barat, potensi, pendidikan
PINTU IJTIHAD TERTUTUPKAH? Hamdi Yusliani
Islam Futura Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v6i2.3044

Abstract

Pemahaman atas ayat Allah yang mungkin mengalami pengembangan adalah ayat Allah yang penunjukannya terhadap hukum bersifat zhanni dan tidak mengandung kepastian arti. Dalam konteks inilah hukum Islam bersifat lentur. Hukum Islam dalam bentuk ini dapat mengalami pengembangan untuk mengakomodasi kehidupan dunia yang selalu mengalami perubahan, terutama dalam era globalisasi yang akan datang, di sinilah sasaran yang menjadi ladangnya ijtihad. Jadi ijtihad senantiasa mungkin untuk dilakukan. Adapun konsekuensi yang akan lahir ketika pintu ijtihad tertutup adalah menjadikan orang Islam terasing dalam kehidupannya.. Dan tentunya, era itu tidak akan lagi melahirkan temuan-temuan ilmu pengetahuan yang baru. Selanjutnya, manusia Islam akan menjadi para muqallid pada kehidupan orang lain yang pada akhirnya tidak akan ada lagi yang menghargai dan memperhatikannya.
MERETAS PENDIDIKAN DALAM DUNIA KERJA Hamdi Yusliani
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 3, No 2, Oktober (2016)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v3i2.455

Abstract

Mengenyam pendidikan sesuai dengan spesifikasi adalah impian setiap orang. Semua orang bercita-cita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dengan latar belakang pendidikannya itu. Namun timbul satu persepsi yang sangat lemah dari para lulusan dimana mereka hanya berpikir bisa bekerja pada orang lain kelak setelah lulus dari studinya. Hal ini menjadi titik awal terhadap lemahnya pola pikir para lulusan dalam menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Setiap kali pemerintah membuka pendaftaran calon Pegawai Negeri Sipil, maka akan ditemukan pendaftarnya begitu banyak. Kendatipun masyarakat dan para lulusan itu sendiri tahu dan sadar bahwa lowongan yang tersedia tidak sesuai dengan ijazah yang mereka miliki, namun hal tersebut bukan menjadi penghalang. Niat dan tujuan awal tidak pernah surut untuk mengadu nasib dalam meraih mimpi dan memperoleh gaji yang serba tetap. Fenomena ini patut direview kembali oleh masyarakat khususnya para pelaku pendidikan. Dimana perlu menciptakan suatu upaya dalam membentuk pola pikir para mahasiswa sejak menempuh jenjang pendidikan tingkat pertamanya. Demikian halnya dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada, diharapkan mampu menciptakan sarjana atau diploma yang siap bekerja atau siap menciptakan pekerjaan. Karena itu, mengubah pola pikir masyarakat terhadap lapangan pekerjaan dirasa perlu untuk melahirkan calon-calon wirausahawan sejati.
IMPLEMENTASI KONSEP KHALIFAH TERHADAP PENDEKATAN TUTORIAL COOPERATIVE LEARNING DALAM PROSES PENDIDIKAN Hamdi Yusliani
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 2, No 1, April (2015)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v2i1.406

Abstract

Manusia merupakan makhluk Allah swt yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal pikiran. Demikian juga manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan dalam mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah swt di muka bumi. Allah swt menciptakan manusia dan menempatkannya di muka bumi ini bukan tanpa alasan, yaitu menjadi hamba dan khalifah dalam mengelola bumiNya sesuai dengan arahan dan petunjukNya. Hal ini tidak hanya menjadi hasil pemikiran manusia saja, melainkan dijelaskan dalam ayat-ayatNya. Dunia pendidikan dalam perkembangannya telah banyak menghasilkan berbagai macam pendekatan dan metode pembelajaran, salah satunya adalah pendekatan tutorial cooperative learning. Pendekatan pembelajaran ini merupakan pendekatan yang berorientasi pada anak didik. Menurut penulis, pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara gotong royong akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pendekatan tutorial cooperative learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan kreativitas siswa.
ترقية كفاءة الطلاب للمحادثة بالعربية في الجامعة محمدية أتشيه: فرص وتحديات Yusliani, Hamdi; Zikri, Awwaluz
لســـانـنــا (LISANUNA): Jurnal Ilmu Bahasa Arab dan Pembelajarannya Vol 14, No 1 (2024): لســـانـنــا (LISANUNA): Jurnal Ilmu Bahasa Arab dan Pembelajarannya (Januari-J
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan keguruan- UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ls.v14i1.22701

Abstract

This article talks about the topic of the importance of improving student qualifications at university level in terms of speaking skills in Arabic with the research location at the Muhammadiyah University of Aceh Campus in Banda Aceh in recent times. Speaking skills in Arabic for non-Arabic speakers are still considered the most difficult language skills to be applied, despite how easy and effortless the theory of Arabic speaking skills when taught by lecturers to students in the classroom. Among the problems that lecturers and students regularly face when practicing Arabic speaking skills is the fear of grammatical errors in Arabic (nahwu and sharaf) when speaking, as well as concerns about pronunciation errors. This article attempts to diagnose the various problems faced in the implementation of teaching Arabic speaking skills, in addition to trying to find opportunities and challenges that might be used to improve the level and ability of the Arabic language speaking among students at Muhammadiyah University in Aceh. This article is a qualitative one, by using descriptive analysis explaining the problems faced and finding solutions as the way out of the problem of implementing Arabic speaking skills among students at Muhammadiyah University of Aceh as an important finding and final conclusion of this article.
Sosialisasi Penerapan Kontekstual Konsep Matematika dalam Ibadah Salat di SMP Ibnu Khaldun, Banda Aceh Nazariah, Nazariah; Yusliani, Hamdi; Helmanda, Cut Mawar
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol 5 No 1 (2024): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v5i1.4879

Abstract

Prayer can serve as a valuable component of mathematical education, especially in Islamic schools, based on the constructivist learning theory. Utilizing community-based research methods, such as action and participatory research, fosters self-awareness and conflict resolution. Through prayer, students can engage in mathematical concepts like counting and multiplication by observing actions like bows and prostrations. Media supplements, such as a ball count, can enhance learning. Contextual notions of school mathematics are evident in prayer, such as adding and multiplying natural numbers, understanding sets, arithmetic sequences, and geometry concepts like lines, angles, and parallelism. For instance, the number of prayer units illustrates adding natural numbers, while the tahajjud prayer exemplifies multiples of two. Moreover, the congregation's rows during group prayer demonstrate line segments and parallel lines, while the standing position showcases various angles. These connections highlight the relationship between prayer and mathematics, offering unique insights into both disciplines. Integrating prayer into mathematical education not only enriches students' understanding but also fosters a holistic approach to learning.
EDUCATION TO MAINTAIN FRIENDSHIP TO STRENGTHEN THE FOUNDATIONS OF PEACE IN SOCIETY Muhammad Fadhillah; Emawati Emawati; Ema Sulastri; Hamdi Yusliani; Rosnidarwati Rosnidarwati
ABDIMU: Jurnal Pengabdian Muhammadiyah Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/abdimu.v4i1.2101

Abstract

According to Islamic teachings, human beings are connected to each other, and as such, they naturally require the company of other people. Due to their inherent weakness, humans depend on the support of people around them. Thus, it is not unusual to refer to humans as social beings. This is owing to the fact that humans are beings who will always require the company of other people. This suggests that all Muslims have a duty to uphold friendship, whether it is through familial ties (descendants) or brotherly relationships with other Muslims. It is necessary for non-Muslims to uphold the virtue of mutual respect and appreciation, even if they go about it in various ways. It is hard to establish harmony and peace within a society if its people lack affection, as this always results in arguments, animosity, and ultimately, murder. For this reason, shilaturrahim (engaging with others)—both general and specific—are essential to bringing about the world's peace, harmony, and unification of humanity. Keywords: Society, Engagement with others, peace
EDUCATION TO MAINTAIN FRIENDSHIP TO STRENGTHEN THE FOUNDATIONS OF PEACE IN SOCIETY Fadhillah, Muhammad; Emawati, Emawati; Sulastri, Ema; Yusliani, Hamdi; Rosnidarwati, Rosnidarwati
ABDIMU: Jurnal Pengabdian Muhammadiyah Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/abdimu.v4i1.2101

Abstract

According to Islamic teachings, human beings are connected to each other, and as such, they naturally require the company of other people. Due to their inherent weakness, humans depend on the support of people around them. Thus, it is not unusual to refer to humans as social beings. This is owing to the fact that humans are beings who will always require the company of other people. This suggests that all Muslims have a duty to uphold friendship, whether it is through familial ties (descendants) or brotherly relationships with other Muslims. It is necessary for non-Muslims to uphold the virtue of mutual respect and appreciation, even if they go about it in various ways. It is hard to establish harmony and peace within a society if its people lack affection, as this always results in arguments, animosity, and ultimately, murder. For this reason, shilaturrahim (engaging with others)—both general and specific—are essential to bringing about the world's peace, harmony, and unification of humanity. Keywords: Society, Engagement with others, peace